(atribut data lengkap dapat diperoleh dengan menekan tombol export)
| # | ID DDP | Sumber Referensi | Indikator | Nama Data | Jenis Data | Instansi Produsen Data | Definisi | Satuan | Catatan kebutuhan dukungan Data Daerah | 2025 | 2026 | 2027 | 2028 | 2029 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1951 | 09.02.046 |
|
| Persentase rencana anggaran untuk belanja fungsi perlindungan sosial pemerintah pusat | STATISTIK | KEMENTERIAN KEUANGAN | Perlindungan sosial adalah semua upaya yang diarahkan untuk mencegah dan menangani risiko dari guncangan dan kerentanan sosial.Perlindungan sosial adalah segala bentuk kebijakan dan intervensi publik... | persen | Indikator SIPD: 000231 - Persentase rencana anggaran untuk belanja fungsi perlindungan sosial pemerintah pusat | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1952 | 01.02.0021 |
|
| Persentase Responden yang Memberikan Umpan Balik Positif atas Public Awareness Campaign (PAC) Pelayanan dan Pelindungan WNI di Luar Negeri | STATISTIK | KEMENTERIAN LUAR NEGERI | Proporsi untuk mengukur responden yang memberikan umpan balik positif setelah mengikuti kegiatan sosialisasi atau kampanye penyadaran publik terkait pelindungan WNI. (reff: https://jurnal.dpr.go.id/i... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1953 | 04.03.031 |
|
| Persentase RO/Sub kegiatan Responsif Gender | STATISTIK | KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK | Perbandingan antara Jumlah Rincian Output atau Subkegiatan K/L yang telah mengintegrasikan analisis gender, intervensi untuk mengatasi ketimpangan gender, serta alokasi anggaran yang berkontribusi ter... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1954 | 04.01.0157 |
|
| Persentase RS Pemerintah Daerah yang memenuhi Ketersediaan Sarana, Prasarana, dan Alat Kesehatan (SPA) sesuai standar | STATISTIK | KEMENTERIAN KESEHATAN | Persentase RS Pemerintah Daerah yang telah memenuhi standar ketersediaan Sarana, Prasarana dan Alat Kesehatan (SPA) minimal 80% berdasarkan data ASPAK | persen | Program: 04.15-Penguatan Pelayanan Kesehatan dan Tata Kelola. Kegiatan: 04.15.02-Pembangunan RS lengkap berkualitas di kabupaten/kota dan pengembangan pelayanan kesehatan bergerak dan daerah sulit akses Lokasi Prioritas: Nasional (seluruh provinsi dan kabupaten/kota); klaster Papua & Papua Barat: Kab. Keerom, Waropen, Supiori, Mamberamo Raya, Sarmi, Boven Digoel, Mappi, Asmat, Pegunungan Arfak, Raja Ampat, Tambrauw, Maybrat, Nduga*, Jayawijaya*, Puncak Jaya, Dogiyai, Puncak, Intan Jaya, Deiyai; Kalimantan: Prov. Kalimantan Timur, Prov. Kalimantan Selatan, Kab. Nunukan, Kab. Malinau, Kab. Tana Tidung, Kota Pontianak; Sumatera: Kota Pekanbaru, Kab. Nias Selatan, Kota Medan, Kab. Kepulauan Mentawai, Kota Bukittinggi, Kota Pariaman, Kota Solok, Kota Banda Aceh, Kab. Aceh Selatan, Prov. Bengkulu (Kab. Bengkulu Selatan, Rejang Lebong, Bengkulu Utara, Kaur, Seluma, Mukomuko, Lebong, Kepahiang, Kota Bengkulu); Jawa–Bali–DIY: Prov. Jawa Timur, Prov. Bali, Prov. D.I. Yogyakarta, Kab. Sukabumi, Kab. Bandung, Kab. Garut, Kab. Cirebon; Sulawesi & Maluku–NTT: Kab. Kepulauan Selayar, Kab. Pangkajene Kepulauan, Prov. Sulawesi Tenggara (Kab. Buton Selatan, Wakatobi, Konawe), Kab. Gorontalo, Kab. Buru, Kab. Buru Selatan, Kab. Kepulauan Aru, Kab. Kep. Tanimbar, Kab. Maluku Barat Daya, Kota Tual, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Manggarai Timur, Kab. Sabu Raijua. Deskripsi: Program Pembangunan Rumah Sakit menargetkan pemerataan “RS Lengkap Berkualitas” di seluruh daerah dengan pemenuhan akreditasi paripurna, standar sarana–prasarana–alkes, serta ketersediaan tenaga spesialis (dasar, penunjang, dan pengembangan layanan unggulan). Intervensi mencakup peningkatan kualitas dan kapasitas layanan, upgrade RS tipe D ke tipe C di lokasi prioritas, pengembangan layanan kesehatan bergerak untuk wilayah sulit akses, serta pemberdayaan masyarakat–swasta dan perbaikan kualitas pendanaan kesehatan. Tujuannya memastikan akses layanan yang merata, inklusif, dan bermutu bagi seluruh penduduk. | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1955 | 04.01.0158 |
|
| Persentase RS Pemerintah yang mencapai target INM (Indikator Nasional Mutu) | STATISTIK | KEMENTERIAN KESEHATAN | Persentase Rumah Sakit Pemerintah yang telah mencapai seluruh target Indikator Nasional Mutu di Rumah Sakit | persen | Program: 04.15-Penguatan Pelayanan Kesehatan dan Tata Kelola. Kegiatan: 04.15.02-Pembangunan RS lengkap berkualitas di kabupaten/kota dan pengembangan pelayanan kesehatan bergerak dan daerah sulit akses Lokasi Prioritas: Nasional (seluruh provinsi dan kabupaten/kota); klaster Papua & Papua Barat: Kab. Keerom, Waropen, Supiori, Mamberamo Raya, Sarmi, Boven Digoel, Mappi, Asmat, Pegunungan Arfak, Raja Ampat, Tambrauw, Maybrat, Nduga*, Jayawijaya*, Puncak Jaya, Dogiyai, Puncak, Intan Jaya, Deiyai; Kalimantan: Prov. Kalimantan Timur, Prov. Kalimantan Selatan, Kab. Nunukan, Kab. Malinau, Kab. Tana Tidung, Kota Pontianak; Sumatera: Kota Pekanbaru, Kab. Nias Selatan, Kota Medan, Kab. Kepulauan Mentawai, Kota Bukittinggi, Kota Pariaman, Kota Solok, Kota Banda Aceh, Kab. Aceh Selatan, Prov. Bengkulu (Kab. Bengkulu Selatan, Rejang Lebong, Bengkulu Utara, Kaur, Seluma, Mukomuko, Lebong, Kepahiang, Kota Bengkulu); Jawa–Bali–DIY: Prov. Jawa Timur, Prov. Bali, Prov. D.I. Yogyakarta, Kab. Sukabumi, Kab. Bandung, Kab. Garut, Kab. Cirebon; Sulawesi & Maluku–NTT: Kab. Kepulauan Selayar, Kab. Pangkajene Kepulauan, Prov. Sulawesi Tenggara (Kab. Buton Selatan, Wakatobi, Konawe), Kab. Gorontalo, Kab. Buru, Kab. Buru Selatan, Kab. Kepulauan Aru, Kab. Kep. Tanimbar, Kab. Maluku Barat Daya, Kota Tual, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Manggarai Timur, Kab. Sabu Raijua. Deskripsi: Program Pembangunan Rumah Sakit menargetkan pemerataan “RS Lengkap Berkualitas” di seluruh daerah dengan pemenuhan akreditasi paripurna, standar sarana–prasarana–alkes, serta ketersediaan tenaga spesialis (dasar, penunjang, dan pengembangan layanan unggulan). Intervensi mencakup peningkatan kualitas dan kapasitas layanan, upgrade RS tipe D ke tipe C di lokasi prioritas, pengembangan layanan kesehatan bergerak untuk wilayah sulit akses, serta pemberdayaan masyarakat–swasta dan perbaikan kualitas pendanaan kesehatan. Tujuannya memastikan akses layanan yang merata, inklusif, dan bermutu bagi seluruh penduduk. | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1956 | 04.01.159 |
|
| Persentase Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang memenuhi Ketersediaan Sarana, Prasarana, dan Alat Kesehatan (SPA) sesuai standar | STATISTIK | KEMENTERIAN KESEHATAN | Persentase RS Pemerintah Daerah yang telah memenuhi standar ketersediaan Sarana, Prasarana dan Alat Kesehatan (SPA) minimal 80% berdasarkan data ASPAK | persen | Program: 04.15-Penguatan Pelayanan Kesehatan dan Tata Kelola. Kegiatan: 04.15.02-Pembangunan RS lengkap berkualitas di kabupaten/kota dan pengembangan pelayanan kesehatan bergerak dan daerah sulit akses Lokasi Prioritas: Nasional (seluruh provinsi dan kabupaten/kota); klaster Papua & Papua Barat: Kab. Keerom, Waropen, Supiori, Mamberamo Raya, Sarmi, Boven Digoel, Mappi, Asmat, Pegunungan Arfak, Raja Ampat, Tambrauw, Maybrat, Nduga*, Jayawijaya*, Puncak Jaya, Dogiyai, Puncak, Intan Jaya, Deiyai; Kalimantan: Prov. Kalimantan Timur, Prov. Kalimantan Selatan, Kab. Nunukan, Kab. Malinau, Kab. Tana Tidung, Kota Pontianak; Sumatera: Kota Pekanbaru, Kab. Nias Selatan, Kota Medan, Kab. Kepulauan Mentawai, Kota Bukittinggi, Kota Pariaman, Kota Solok, Kota Banda Aceh, Kab. Aceh Selatan, Prov. Bengkulu (Kab. Bengkulu Selatan, Rejang Lebong, Bengkulu Utara, Kaur, Seluma, Mukomuko, Lebong, Kepahiang, Kota Bengkulu); Jawa–Bali–DIY: Prov. Jawa Timur, Prov. Bali, Prov. D.I. Yogyakarta, Kab. Sukabumi, Kab. Bandung, Kab. Garut, Kab. Cirebon; Sulawesi & Maluku–NTT: Kab. Kepulauan Selayar, Kab. Pangkajene Kepulauan, Prov. Sulawesi Tenggara (Kab. Buton Selatan, Wakatobi, Konawe), Kab. Gorontalo, Kab. Buru, Kab. Buru Selatan, Kab. Kepulauan Aru, Kab. Kep. Tanimbar, Kab. Maluku Barat Daya, Kota Tual, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Manggarai Timur, Kab. Sabu Raijua. Deskripsi: Program Pembangunan Rumah Sakit menargetkan pemerataan “RS Lengkap Berkualitas” di seluruh daerah dengan pemenuhan akreditasi paripurna, standar sarana–prasarana–alkes, serta ketersediaan tenaga spesialis (dasar, penunjang, dan pengembangan layanan unggulan). Intervensi mencakup peningkatan kualitas dan kapasitas layanan, upgrade RS tipe D ke tipe C di lokasi prioritas, pengembangan layanan kesehatan bergerak untuk wilayah sulit akses, serta pemberdayaan masyarakat–swasta dan perbaikan kualitas pendanaan kesehatan. Tujuannya memastikan akses layanan yang merata, inklusif, dan bermutu bagi seluruh penduduk. | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1957 | 04.01.160 |
|
| Persentase Rumah Sakit Pemerintah dengan dokter spesialis sesuai standar | STATISTIK | KEMENTERIAN KESEHATAN | Proporsi RS milik Pemerintah Pusat dan Daerah teregistrasi dan laik operasional yang memenuhi standar minimal 7 jenis dokter spesialis (Sp.A, Sp.B, Sp.OG, Sp.PD, Sp.An, Sp.Rad, Sp.PK) dan minimal 1 je... | persen | Indikator SIPD: 000826 - Presentase RS pemerintah dengan dokter spesialis sesuai standar | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1958 | 04.01.162 |
|
| Persentase Rumah Sakit Pemerintah terakreditasi paripurna | STATISTIK | KEMENTERIAN KESEHATAN | Persentase Rumah Sakit pemerintah (K/L, TNI/Polri, dan daerah) yang telah melaksanakan akreditasi dengan status capaian minimal sertifikat paripurna dari lembaga akreditasi rumah sakit dan masih berla... | persen | Indikator SIPD: 000824 - Presentase rumah sakit pemerintah terakreditasi paripurna | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1959 | 04.01.163 |
|
| Persentase Rumah Sakit Pemerintah yang patuh memberikan antibiotik sistemik empirik sesuai standar | STATISTIK | KEMENTERIAN KESEHATAN | RS Pemerintah yang memberikan antibiotik sistemik empirik sesuai standar >= 80%. Yang termasuk RS Pemerintah adalah RSVK/L, RS milik pemda Prov/Kab/Kota. Pemberian antibiotik sistemik adalah pemberian... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1960 | 04.01.166 |
|
| Persentase Rumah Sakit yang memberikan layanan geriatri terpadu | STATISTIK | KEMENTERIAN KESEHATAN | RS yang memberikan layanan kesehatan bagi lansia sesuai konsep pelayanan geriatric dengan tim terpadu (interdisiplin) | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1961 | 04.01.167 |
|
| Persentase Rumah Sakit yang mencapai target INM (Indikator Nasional Mutu) | STATISTIK | KEMENTERIAN KESEHATAN | Persentase Rumah Sakit yang telah mencapai seluruh target Indikator Nasional Mutu di Rumah Sakit | persen | Program: 04.15-Penguatan Pelayanan Kesehatan dan Tata Kelola. Kegiatan: 04.15.02-Pembangunan RS lengkap berkualitas di kabupaten/kota dan pengembangan pelayanan kesehatan bergerak dan daerah sulit akses Lokasi Prioritas: Nasional (seluruh provinsi dan kabupaten/kota); klaster Papua & Papua Barat: Kab. Keerom, Waropen, Supiori, Mamberamo Raya, Sarmi, Boven Digoel, Mappi, Asmat, Pegunungan Arfak, Raja Ampat, Tambrauw, Maybrat, Nduga*, Jayawijaya*, Puncak Jaya, Dogiyai, Puncak, Intan Jaya, Deiyai; Kalimantan: Prov. Kalimantan Timur, Prov. Kalimantan Selatan, Kab. Nunukan, Kab. Malinau, Kab. Tana Tidung, Kota Pontianak; Sumatera: Kota Pekanbaru, Kab. Nias Selatan, Kota Medan, Kab. Kepulauan Mentawai, Kota Bukittinggi, Kota Pariaman, Kota Solok, Kota Banda Aceh, Kab. Aceh Selatan, Prov. Bengkulu (Kab. Bengkulu Selatan, Rejang Lebong, Bengkulu Utara, Kaur, Seluma, Mukomuko, Lebong, Kepahiang, Kota Bengkulu); Jawa–Bali–DIY: Prov. Jawa Timur, Prov. Bali, Prov. D.I. Yogyakarta, Kab. Sukabumi, Kab. Bandung, Kab. Garut, Kab. Cirebon; Sulawesi & Maluku–NTT: Kab. Kepulauan Selayar, Kab. Pangkajene Kepulauan, Prov. Sulawesi Tenggara (Kab. Buton Selatan, Wakatobi, Konawe), Kab. Gorontalo, Kab. Buru, Kab. Buru Selatan, Kab. Kepulauan Aru, Kab. Kep. Tanimbar, Kab. Maluku Barat Daya, Kota Tual, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Manggarai Timur, Kab. Sabu Raijua. Deskripsi: Program Pembangunan Rumah Sakit menargetkan pemerataan “RS Lengkap Berkualitas” di seluruh daerah dengan pemenuhan akreditasi paripurna, standar sarana–prasarana–alkes, serta ketersediaan tenaga spesialis (dasar, penunjang, dan pengembangan layanan unggulan). Intervensi mencakup peningkatan kualitas dan kapasitas layanan, upgrade RS tipe D ke tipe C di lokasi prioritas, pengembangan layanan kesehatan bergerak untuk wilayah sulit akses, serta pemberdayaan masyarakat–swasta dan perbaikan kualitas pendanaan kesehatan. Tujuannya memastikan akses layanan yang merata, inklusif, dan bermutu bagi seluruh penduduk. | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1962 | 04.01.168 |
|
| Persentase Rumah Sakit yang mengimplementasikan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) | STATISTIK | KEMENTERIAN KESEHATAN | Persentase Rumah Sakit : - Memiliki Tim Pengendalian Resistensi Antimikroba - Memiliki Program Pengendalian Resistensi Antimikroba - Melaporkan implementasi Program Pengendalian Resistensi Antimikroba... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1963 | 03.01.068 |
|
| Persentase Rumah tangga dengan akses air minum jaringan perpipaan | STATISTIK | KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM | Rumah Tangga yang menggunakan Air yang diproduksi melalui proses pengolahan sebelum dialirkan kepada konsumen melalui suatu instalasi berupa saluran tertutup/perpipaan sampai di rumah responden. Sumbe... | persen | Program: 02.12-Swasembada Air. Kegiatan: 02.12.05-Pengembangan SPAM Terintegrasi Hulu ke Hilir Lokasi Prioritas: Nasional (Seluruh Provinsi); Provinsi/Kab/Kota: Papua Barat*; D.I. Yogyakarta (indikatif); Jawa Timur; Sumatera Barat; Riau (Kab. Bengkalis, Kab. Kepulauan Meranti); Kalimantan Barat (Kab. Sambas, Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu, Bengkayang, Kota Pontianak); Kalimantan Selatan; Sulawesi Tengah; Kota Makassar; Aceh (Kab. Aceh Singkil, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Besar, Aceh Utara, Nagan Raya, Aceh Jaya). Deskripsi: Isu strategis ketahanan air mengemuka karena adanya 12,7 juta ha lahan kritis, potensi penurunan PDB hingga 7,3% pada 2045 bila ancaman air tidak tertangani, serta dampak perubahan iklim: hari hujan menurun namun intensitas makin ekstrem sehingga risiko banjir dan kekeringan meningkat. Ribuan mata air hilang dalam 10 tahun terakhir dan sekitar 40% mengalami penurunan debit (contoh: Umbulan turun dari 6.000 menjadi 2.800 L/detik). Respons yang dibutuhkan meliputi rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) vegetatif, pembangunan bangunan konservasi tanah dan air, serta peningkatan tutupan hutan di DAS untuk menjamin kuantitas dan kualitas air secara berkelanjutan. Indikator SIPD: 000668 - Rumah tangga dengan akses air minum jaringan perpipaan (%) | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1964 | 03.04.016 |
|
| Persentase Rumah Tangga dengan Akses Hunian Layak, Terjangkau, dan Berkelanjutan | STATISTIK | BADAN PUSAT STATISTIK | Perbandingan antara jumlah rumah tangga yang menempati rumah layak huni dengan jumlah rumah tangga, dikalikan 100 persen. Rumah tangga dengan akses rumah layak huni, terjangkau, dan berkelanjutan adal... | persen | Indikator Utama Pembangunan - 23b.Rumah tangga dengan akses hunian layak, terjangkau dan berkelanjutan (%) Indikator SIPD: 000706 - Persentase rumah layak, terjangkau, dan berkelanjutan 000041 - Rumah Tangga dengan Akses Hunian Layak, Terjangkau dan Berkelanjutan 000236 - Persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap hunian yang layak dan terjangkau 000941 - Persentase Rumah Tangga dengan Akses Hunian Layak | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1965 | 04.03.0032 |
|
| Persentase rumah tangga dengan anak yang memperoleh akses terhadap perumahan yang layak | STATISTIK | KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK | 1. Persentase rumah tangga dengan anak yang memiliki akses terhadap hunian yang layak dan terjangkau adalah persentase rumah tangga dengan anak yang tinggal pada rumah yang memenuhi empat kriteria di... | persen | Indikator Utama Pembangunan - 23b.Rumah tangga dengan akses hunian layak, terjangkau dan berkelanjutan (%) Indikator SIPD: 000706 - Persentase rumah layak, terjangkau, dan berkelanjutan 000041 - Rumah Tangga dengan Akses Hunian Layak, Terjangkau dan Berkelanjutan 000236 - Persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap hunian yang layak dan terjangkau 000941 - Persentase Rumah Tangga dengan Akses Hunian Layak | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1966 | 04.03.0033 |
|
| Persentase rumah tangga dengan anak yang menggunakan fasilitas sanitasi yang layak | STATISTIK | KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK | 1. Persentase rumah tangga dengan anak yang menggunakan fasilitas sanitasi yang layak adalah perbandingan jumlah rumah tangga dengan anak yang menggunakan fasilitas sanitasi layak dengan jumlah rumah... | persen | Indikator Utama Pembangunan - 42b.Rumah tangga dengan akses sanitasi aman (%) | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1967 | 07.05.077 |
|
| Persentase rumah tangga dengan layanan penuh pengumpulan sampah | STATISTIK | BADAN PUSAT STATISTIK | Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari dan atau proses alam yang berbentuk padat (UU No. 18 2008 tentang Pengelolaan Sampah). Sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari... | persen | Indikator Utama Pembangunan - 42c-ii.Proporsi Rumah Tangga (RT) Dengan Layanan Penuh Pengumpulan Sampah (% RT) Indikator SIPD: 000065 - Proporsi Rumah Tangga (RT) Dengan Layanan Penuh Pengumpulan Sampah 000883 - Proporsi Rumah Tangga dengan Layanan Penuh Pengumpulan Sampah | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1968 | 03.06.020 |
|
| Persentase Rumah Tangga Miskin yang memiliki aset lahan | STATISTIK | KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/BADAN PERTANAHAN NASIONAL | Penghitungan jumlah rumah tangga miskin yang telah dilaksanakan penataan aset melalui Redistribusi Tanah dan dinyatakan dalam persentase | persen | Ya | Tidak | Ya | Ya | Ya | |
| 1969 | 03.05.026 |
|
| Persentase Rumah tangga perdesaan dengan akses air minum aman | STATISTIK | KEMENTERIAN DESA DAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL | Mengidentifikasi kelayakan air minum yang ada di desa berdasarkan ukuran kualitas, jam operasional, sumber dan kemudahan akses air minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang menyelenggaraka... | persen | "Program: 06.07-Peningkatan Kemandirian Perdesaan yang Berkelanjutan. Kegiatan: 06.07.01-Pemenuhan Layanan Dasar dan Infrastruktur Desa Lokasi Prioritas: Seluruh Provinsi / Dilaksanakan pada 75.265 desa; Pusat (Tersebar); Provinsi Nusa Tenggara Barat (khususnya KPP berbasis Pariwisata Sembalun); Provinsi Kalimantan Tengah (mencakup Kab. Kapuas, Kab. Barito Utara, Kab. Barito Selatan, Kab. Kotawaringin Timur, Kab. Kotawaringin Barat, Kab. Katingan, Kab. Seruyan, Kab. Sukamara, Kab. Lamandau, Kab. Gunung Mas, Kab. Pulang Pisau, Kab. Murung Raya, Kab. Barito Timur, Kota Palangkaraya); Provinsi Kalimantan Utara; Provinsi Kalimantan Timur; Provinsi Kalimantan Selatan; Provinsi Maluku; Provinsi Jawa Barat; serta prioritas pelaksanaan terhadap: Desa-desa dalam delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN) dan daerah mitra IKN, Desa-desa pada 10 Wilayah Metropolitan (WM), Desa-desa di 30 Kawasan Perdesaaan Prioritas (KPP) (termasuk KPP Kab. Raja Ampat dan KPP Kab. Ngada), dan Desa-Desa Sangat Tertinggal dan Tertinggal Prioritas (termasuk Kab. Mamberamo Raya, Kab. Waropen, Kab. Supiori, Kab. Tambrauw, Kab. Maybrat, seluruh Kab/Kota di Provinsi Papua Pegunungan, Kab. Boven Digoel, Kab. Mappi, Kab. Asmat, Kab. Paniai, Kab. Puncak, Kab. Puncak Jaya, Kab. Intan Jaya, Kab. Deiyai, Kab. Dogiyai, Kab. Sumba Tengah, Kab. Sumba Barat Daya, dan Kab. Sabu Raijua). Deskripsi: Pemenuhan layanan dasar dan infrastruktur perdesaan masih sangat bervariasi baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Terdapat kesenjangan signifikan, misalnya (data 2024): 20,26% desa tidak memiliki akses fasilitas kesehatan, 24,38% desa mengalami sinyal telepon lemah, 42,61% desa tidak memiliki penampungan sampah, dan 5,17% desa belum menggunakan jamban. Oleh karena itu, program ini bertujuan untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan terhadap layanan dasar serta infrastruktur desa, khususnya agar rumah tangga perdesaan dapat memiliki akses air minum dan sanitasi aman, layanan kesehatan, dan rumah layak huni. Pemenuhan infrastruktur ini dipandang krusial karena akan berdampak signifikan terhadap perekonomian serta kesejahteraan masyarakat desa, sekaligus menjadi strategi pembangunan holistik untuk memberdayakan masyarakat perdesaan, mengurangi kemiskinan, dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif (mendukung PHTC-7)." | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1970 | 03.05.027 |
|
| Persentase Rumah Tangga Perdesaan dengan Akses Sanitasi Aman | STATISTIK | KEMENTERIAN DESA DAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL | Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik yang selanjutnya disingkat SPALD adalah serangkaian kegiatan pengelolaan air limbah domestik dalam satu kesatuan dengan prasarana dan sarana pengelolaan air limb... | persen | "Program: 06.07-Peningkatan Kemandirian Perdesaan yang Berkelanjutan. Kegiatan: 06.07.01-Pemenuhan Layanan Dasar dan Infrastruktur Desa Lokasi Prioritas: Seluruh Provinsi / Dilaksanakan pada 75.265 desa; Pusat (Tersebar); Provinsi Nusa Tenggara Barat (khususnya KPP berbasis Pariwisata Sembalun); Provinsi Kalimantan Tengah (mencakup Kab. Kapuas, Kab. Barito Utara, Kab. Barito Selatan, Kab. Kotawaringin Timur, Kab. Kotawaringin Barat, Kab. Katingan, Kab. Seruyan, Kab. Sukamara, Kab. Lamandau, Kab. Gunung Mas, Kab. Pulang Pisau, Kab. Murung Raya, Kab. Barito Timur, Kota Palangkaraya); Provinsi Kalimantan Utara; Provinsi Kalimantan Timur; Provinsi Kalimantan Selatan; Provinsi Maluku; Provinsi Jawa Barat; serta prioritas pelaksanaan terhadap: Desa-desa dalam delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN) dan daerah mitra IKN, Desa-desa pada 10 Wilayah Metropolitan (WM), Desa-desa di 30 Kawasan Perdesaaan Prioritas (KPP) (termasuk KPP Kab. Raja Ampat dan KPP Kab. Ngada), dan Desa-Desa Sangat Tertinggal dan Tertinggal Prioritas (termasuk Kab. Mamberamo Raya, Kab. Waropen, Kab. Supiori, Kab. Tambrauw, Kab. Maybrat, seluruh Kab/Kota di Provinsi Papua Pegunungan, Kab. Boven Digoel, Kab. Mappi, Kab. Asmat, Kab. Paniai, Kab. Puncak, Kab. Puncak Jaya, Kab. Intan Jaya, Kab. Deiyai, Kab. Dogiyai, Kab. Sumba Tengah, Kab. Sumba Barat Daya, dan Kab. Sabu Raijua). Deskripsi: Pemenuhan layanan dasar dan infrastruktur perdesaan masih sangat bervariasi baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Terdapat kesenjangan signifikan, misalnya (data 2024): 20,26% desa tidak memiliki akses fasilitas kesehatan, 24,38% desa mengalami sinyal telepon lemah, 42,61% desa tidak memiliki penampungan sampah, dan 5,17% desa belum menggunakan jamban. Oleh karena itu, program ini bertujuan untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan terhadap layanan dasar serta infrastruktur desa, khususnya agar rumah tangga perdesaan dapat memiliki akses air minum dan sanitasi aman, layanan kesehatan, dan rumah layak huni. Pemenuhan infrastruktur ini dipandang krusial karena akan berdampak signifikan terhadap perekonomian serta kesejahteraan masyarakat desa, sekaligus menjadi strategi pembangunan holistik untuk memberdayakan masyarakat perdesaan, mengurangi kemiskinan, dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif (mendukung PHTC-7)." | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1971 | 03.01.070 |
|
| Persentase Rumah Tangga yang Masih Mempraktikkan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Tempat Terbuka | STATISTIK | BADAN PUSAT STATISTIK | Buang air besar sembarangan (BABS) di tempat terbuka apabila rumah tangga tidak memiliki fasilitas sanitasi atau memiliki fasilitas sanitasi tetapi tidak menggunakannya. | persen | Indikator SIPD: 000560 - Persentase angka BABS di tempat terbuka | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1972 | 06.05.041 |
|
| Persentase rumah tangga yang membeli alat atau perlengkapan olahraga dalam setahun | STATISTIK | BADAN PUSAT STATISTIK | Persentase rumah tangga yang membeli alat atau perlengkapan olahraga termasuk perbaikannya dalam setahun | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1973 | 06.05.0004 |
|
| Persentase rumah tangga yang memberi alat atau perlengkapan olahraga dalam setahun | STATISTIK | BADAN PUSAT STATISTIK | Persentase rumah tangga yang melakukan pembelian alat dan perlengkapan olahraga (seperti catur, raket, bola, net, bet, stik, baju renang, baju senam, sepatu bola/roda, dan kacamata renang), termasu | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1974 | 04.03.0034 |
|
| Persentase rumah tangga yang memiliki anak yang menyediakan fasilitas cuci tangan dengan air dan sabun | STATISTIK | KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK | Persentase rumah tangga dengan anak yang memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air adalah perbandingan antara banyaknya rumah tangga dengan anak yang memiliki kebiasaan mencuci tangan menggu... | persen | Indikator Utama Pembangunan - 42b.Rumah tangga dengan akses sanitasi aman (%) | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1975 | 03.01.071 |
|
| Persentase Rumah Tangga yang memiliki tangki septik dan disedot secara berkala | STATISTIK | KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL | Persentase rumah tangga yang memiliki tangki septik dan disedot secara berkala (sekali dalam 3-5 tahun) | persen | Konfirmasi Dit. PIKP BAPPENAS: Dibutuhkan data real penyedotan tangki septik yang dibuang ke IPLT, baik dari kegiatan Layanan Lumpur Tinja Tidak Terjadwal maupun Layanan Lumpur Tinja Terjadwal. Kebutuhan data dibutuhkan sampai level kabupaten/kota karena data yang diperoleh dan diolah dari Susenas KOR BPS merupakan data proxy yang mana tidak terdapat pendataan penyedotan tangki septik yang dibuang dan diolah sampai ke IPLT Program: 02.12-Swasembada Air. Kegiatan: 02.12.06-Penyediaan dan Pengawasan Sanitasi Aman, Berkelanjutan, dan Berketahanan Iklim Berbasis CWIS Lokasi Prioritas: Nasional (seluruh provinsi & kabupaten/kota) dengan prioritisasi: wilayah metropolitan & ibu kota provinsi; wilayah DAS dan kawasan pesisir prioritas; serta challenging area (rawan air, pesisir, dll), sambil mempertimbangkan Readiness Criteria (RC) dan kinerja daerah. Contoh fokus yang disebut: Prov. Jawa Timur (38 kab/kota), Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jambi, Riau (Rokan Hulu/Rokan Hilir), klaster Gorontalo (Pohuwato, Gorontalo, Bone Bolango, Boalemo, Gorontalo Utara, Kota Gorontalo), Kab. Tana Tidung, Kab. Luwu & Pangkajene Kepulauan, Kota Pariaman, serta Kab. Klungkung–Gianyar–Karangasem. Deskripsi: Cakupan dan pemanfaatan sanitasi aman masih rendah: hanya ±10,21% rumah tangga yang terlayani; dari 514 kab/kota baru ~60% memiliki fasilitas pengolahan air limbah domestik dengan utilisasi hanya 20–30%. Sekitar 80% konsumsi air rumah tangga menjadi air limbah berpatogen (mis. E. coli) yang berkontribusi pada 73% kasus diare; dampak berulang memicu malnutrisi dan stunting (prevalensi 2023: 21,5%) serta menaikkan beban biaya pengolahan air dan kerugian ekonomi (>2% PDB/tahun). Intervensi diarahkan untuk meningkatkan cakupan, keberfungsian, dan kualitas infrastruktur SPALD/IPLT (termasuk pendekatan CWIS), memperluas akses air minum & sanitasi aman, dan mengurangi pencemaran—guna mendukung SDG 6 serta pemenuhan hak dasar atas air dan sanitasi. | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1976 | 08.01.029 |
|
| Persentase Rumah Tangga yang mendapatkan Bimbingan Keagamaan Keluarga | STATISTIK | KEMENTERIAN AGAMA | Persentase rumah tangga yang mendapatkan bimbingan keagamaan keluarga merujuk pada proporsi atau persentase dari total rumah tangga dalam suatu komunitas atau wilayah yang telah menerima bimbingan ata... | persen | Tidak | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1977 | 07.02.025 |
|
| Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Gas | STATISTIK | BADAN PUSAT STATISTIK | Rumah tangga yang menggunakan gas/LPG sebagai bahan bakar utama untuk memasak adalah jumlah rumah tangga di Indonesia yang menggunakan bahan bakar gas alam/biogas/ LPG untuk keperluan memasak pada tah... | persen | Indikator SIPD: 000177 - Proporsi rumah tangga yang menggunakan gas/LPG sebagai bahan bakar utama untuk memasak terhadap total rumah tangga | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1978 | 07.05.080 |
|
| Persentase Sampah yang Terkelola | STATISTIK | KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP | sampah yang diproses sesuai dengan prinsip-prinsip pengurangan, penanganan, dan keberlanjutan, sehingga tidak mencemari lingkungan dan memberi manfaat bagi masyarakat serta ekonomi baik melalui pengur... | persen | Program: 02.18-Reformasi Pengelolaan Sampah Terintegrasi dari Hulu ke Hilir. Kegiatan: 02.18.01-Perubahan Perilaku dan Penguatan Tata Kelola Persampahan Lokasi Prioritas: Nasional (tersebar) dengan penajaman pada: kab/kota berstatus TPA darurat; 10 wilayah metropolitan prioritas (mis. Kota Semarang; WM Surabaya); kab/kota pelapor SIPSN; kab/kota amanat Perpres 35/2018; serta lokasi dengan ekosistem pengolahan sampah/DAS prioritas. Contoh sebutan: Prov. Sulawesi Utara; Prov. Maluku; Prov. Jawa Barat; Kab. Nunukan & Kota Tarakan. Deskripsi: Produksi sampah diproyeksikan 82,2 juta ton/tahun (2045) dan kapasitas TPA nasional berpotensi penuh pada 2028. Tantangan utama: 93,2% rumah tangga belum memilah sampah; 63,7% timbulan berakhir di TPA; 47% TPA masih open dumping; tata kelola lemah (DLH di 399 kab/kota merangkap regulator–operator, BLUD persampahan sangat terbatas, alokasi APBD ~0,5–0,8%, retribusi terkumpul 40–45%, RI-SPAL hanya sedikit daerah). Reformasi persampahan menjadi “game changer” RPJPN 2025–2045 untuk menurunkan intensitas emisi GRK menuju NZE 2060 dan meningkatkan Indeks Ekonomi Hijau, dengan sasaran peningkatan IKPS Nasional melalui pemilahan di hulu, penguatan sistem informasi & regulasi, modernisasi infrastruktur layanan, serta perbaikan kelembagaan & pembiayaan. | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1979 | 10.04.020 |
|
| Persentase santri yang mendapatkan bantuan makanan bergizi | STATISTIK | BADAN GIZI NASIONAL | Persentase santri yang mendapatkan bantuan makanan bergizi gratis sesuai standar | persen | Program: 04.12-Pemberian Makan Gratis untuk Pemenuhan Gizi. Kegiatan: 04.12.01-Pemberian Makan Bergizi untuk Siswa, Santri, Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita Lokasi Prioritas: Jawa Barat Deskripsi: Program pemberian Makan Bergizi Gratis bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan selama 16 tahun pertama perkembangan anak, mendukung pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan dan pengembangan SDM berkualitas dengan sasaran peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (target 100%, 2029) | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1980 | 08.01.030 |
|
| Persentase Sarana Prasarana Peribadatan yang Memenuhi Standar | STATISTIK | KEMENTERIAN AGAMA | Indikator "Persentase Sarana Prasarana Peribadatan yang memenuhi standar" mencerminkan proporsi Sarana Prasarana Peribadatan dan/atau tempat ibadah yang sesuai dengan standar tertentu. Standar ini dap... | persen | Tidak | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1981 | 10.04.021 |
|
| Persentase satuan pelayanan pemenuhan gizi yang sesuai standar | STATISTIK | BADAN GIZI NASIONAL | Persentase satuan pelayanan pemenuhan gizi yang memenuhi standar berdasarkan regulasi dan pedoman yang berlaku | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1982 | 06.01.036 |
|
| Persentase satuan pendidikan dengan akreditasi minimal B | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Sistem penjaminan mutu mencakup seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan dengan memanfaatkan berbagai sumber daya untuk mencapai bahkan melampaui Standar Nasional Pendidikan (SNP). Berdasarkan Peratur... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1983 | 06.01.038 |
|
| Persentase satuan pendidikan formal dan nonformal yang diakreditasi sesuai SNP | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Sistem penjaminan mutu mencakup seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan dengan memanfaatkan berbagai sumber daya untuk mencapai bahkan melampaui Standar Nasional Pendidikan (SNP). Berdasarkan Peratur... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1984 | 06.01.039 |
|
| Persentase satuan pendidikan formal dan nonformal yang memenuhi SNP sarpras, termasuk penyediaan fasilitas untuk mendukung satuan pendidikan inklusif | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Perbandingan jumlah satuan pendidikan yang memenuhi SNP sapras dibagi dengan jumlah satuan pendidikan. Kriteria SNP tertuang dalam Permendikbudristek No 22 tahun 2023 tentang Standar Sarana dan Prasar... | persen | Program: 04.01-Percepatan Wajib Belajar 13 Tahun (1 tahun pendidikan prasekolah dan 12 tahun pendidikan dasar dan pendidikan menengah). Kegiatan: 04.01.02-Revitalisasi Sarana dan Prasarana Sekolah dan Madrasah yang Berkualitas (PHTC) Lokasi Prioritas: Nasional (38 provinsi, 512 kabupaten/kota; seluruh kab/kota di Jawa Tengah); Provinsi/Kab/Kota: 38 kab/kota di Jawa Timur; Sulawesi Utara; Sumatera Selatan; Sumatera Barat (Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kab. Sijunjung); serta seluruh provinsi (penugasan lintas daerah). Deskripsi: Mutu pembelajaran perlu didorong lewat revitalisasi sarana–prasarana sekolah dan madrasah serta pembangunan satuan pendidikan baru di daerah padat murid. Data Pokok Pendidikan 2023 menunjukkan 25,67% ruang kelas dalam kondisi rusak sedang/berat—setara 501.641 ruang kelas sekolah dan 44.038 ruang kelas madrasah dari total 1.831.172—disertai mismatch kapasitas karena jumlah siswa melampaui daya tampung. Program menargetkan pemerataan akses pendidikan berkualitas melalui perbaikan/rehabilitasi ruang belajar, penambahan kapasitas, dan pemenuhan pembiayaan operasional agar proses belajar tidak terganggu dan standar layanan pendidikan meningkat merata. | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1985 | 06.01.040 |
|
| Persentase satuan pendidikan formal dan nonformal yang memiliki program terkait peningkatan kualitas lingkungan belajar | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Perbandingan jumlah satuan pendidikan yang memiliki program terkait peningkatan kualitas lingkungan belajar dibagi dengan jumlah satuan pendidikan. Peningkatan kualitas lingkungan belajar sangat penti... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1986 | 06.01.041 |
|
| Persentase satuan pendidikan formal dan nonformal yang menerapkan kurikulum yang kontekstual berpusat pada peserta didik serta fokus pada karakter dan kompetensi esensial | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Perbandingan jumlah satuan pendidikan formal dan nonformal yang telah menerapkan kurikulum terkini dibagi dengan jumlah satuan pendidikan formal dan nonformal | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1987 | 08.01.031 |
|
| Persentase satuan pendidikan formal pesantren yang memperoleh hasil asesmen minimal jayyid | STATISTIK | KEMENTERIAN AGAMA | Pendidikan pesantren formal mencakup Pendidikan Diniyah Formal (PDF) dan Satuan Pendidikan Mu’adaalah (SPM), sementara hasil asesmen minimal jayyid merujuk pada asesmen di pesantren dengan nilai minim... | persen | Tidak | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1988 | 06.01.042 |
|
| Persentase satuan pendidikan formal yang memanfaatkan komputer dan internet untuk tujuan pembelajaran | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Perbandingan jumlah sekolah yang memanfaatkan komputer dan internet untuk tujuan pembelajaran dibagi dengan jumlah sekolah. Sekolah diasumsikan telah memanfaatkan komputer dan internet untuk tujuan pe... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1989 | 06.01.043 |
|
| Persentase satuan pendidikan menerapkan pendidikan inklusif | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Satuan pendidikan yang menerapkan pendidikan inklusif adalah satuan pendidikan umum yang memberikan kesempatan pada semua peserta didik yang memiliki keterbatasan dan/atau bakat istimewa untuk mengiku... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1990 | 06.01.044 |
|
| Persentase satuan pendidikan nonformal yang meningkat mutu pembelajarannya | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Persentase dari satuan pendidikan nonformal yang memiliki mutu pembelajaran lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya berdasarkan hasil rapor pendidikan atau survei lingkungan belajar. | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1991 | 08.01.032 |
|
| Persentase satuan pendidikan pesantren dan pendidikan keagamaan yang dinilai dan dievaluasi mutunya | STATISTIK | KEMENTERIAN AGAMA | Menilai satuan pendidikan pesantren kepada Satuan Pendidikan Diniyah Formal dan Satuan Pendidikan Muadalah. Penilaian ini akan dilakukan diawal pembelajaran oleh Majelis Masyayikh. Indikator melihat p... | persen | Tidak | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1992 | 08.01.033 |
|
| Persentase satuan pendidikan pesantren dan pendidikan keagamaan yang mendapatkan pendampingan | STATISTIK | KEMENTERIAN AGAMA | Indikator ini mengukur proporsi satuan pendidikan pesantren dan pendidikan keagamaan yang menerima program pendampingan dari Kementerian Agama dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan, manajemen,... | persen | Tidak | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1993 | 06.01.045 |
|
| Persentase satuan pendidikan yang memanfaatkan hasil asesmen tingkat nasional untuk peningkatan kualitas pembelajaran | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Perbandingan jumlah satuan pendidikan yang memanfaatkan hasil asesmen nasional untuk peningkatan kualitas pembelajaran dibagi dengan jumlah satuan pendidikan yang mengikuti Asesmen Nasional. Satuan pe... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1994 | 06.01.046 |
|
| Persentase satuan pendidikan yang memenuhi SNP (standar nasional pendidikan) | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | SNP (Standar Nasional Pendidikan) merupakan satuan pendidikan yang memenuhi kriteria minimal yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat melalui Badan Akreditasi Nasional PAUD, Dasar dan Menengah yang bertu... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1995 | 06.01.0133 |
|
| Persentase Satuan Pendidikan Yang Memenuhi SNP (Standar Satuan Pendidikan) di Ibu Kota Nusantara | STATISTIK | OTORITA IBUKOTA NUSANTARA | Persentase pelayanan pendidikan yang memenuhi kriteria minimal sistem pendidikan yang wajib dipenuhi untuk menjamin mutu pendidikan di Ibu Kota Nusantara | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1996 | 06.01.049 |
|
| Persentase satuan pendidikan yang mencapai standar kompetensi minimum dalam asesmen kompetensi tingkat nasional: (a) literasi membaca; dan (b) numerasi | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Jumlah satuan pendidikan di provinsi X yang memiliki capaian asesmen tingkat nasional mencapai standar kompetensi minimum dibagi jumlah satuan pendidikan di provinsi X. Asesmen Nasional adalah ukuran... | persen | Indikator Utama Pembangunan - 5b.Persentase satuan pendidikan yang mencapai standar kompetensi minimum pada asesmen tingkat nasional untuk: Indikator SIPD: 000017 - Persentase satuan pendidikan yang mencapai standar kompetensi minimum pada asesmen tingkat nasional untuk Literasi membaca dan Numerasi | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1997 | 04.01.170 |
|
| Persentase Sediaan farmasi aman dan bermutu | STATISTIK | BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN | Proporsi sediaan farmasi yang disampling berdasarkan risiko yang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan dibandingkan seluruh sediaan farmasi yang menjadi sampel. Rorenkeu: a. Sediaan Farmasi mencakup... | persen | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya | |
| 1998 | 06.01.050 |
|
| Persentase Sekolah dengan Akses Internet untuk Pengajaran | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Proporsi sekolah berdasarkan tingkat pendidikan (dasar, menengah dan menengah atas) dengan akses terhadap fasilitas atau layanan yang diberikan (a) listrik(b) internet untuk tujuan pengajaran, (c) kom... | persen | Indikator SIPD: 000150 - Proporsi sekolah dengan akses ke: (a) listrik (b) internet untuk tujuan pengajaran, (c) komputer untuk tujuan pengajaran, (d) air minum layak, (e) fasilitas sanitasi dasar per jenis kelamin, (f) fasilitas cuci tangan (terdiri air, sanitasi, dan higienis bagi semua (WASH). | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 1999 | 06.01.051 |
|
| Persentase Sekolah dengan Akses Komputer untuk Pengajaran | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Proporsi sekolah berdasarkan tingkat pendidikan (dasar, menengah dan menengah atas) dengan akses terhadap fasilitas atau layanan yang diberikan (a) listrik(b) internet untuk tujuan pengajaran, (c) kom... | persen | Indikator SIPD: 000150 - Proporsi sekolah dengan akses ke: (a) listrik (b) internet untuk tujuan pengajaran, (c) komputer untuk tujuan pengajaran, (d) air minum layak, (e) fasilitas sanitasi dasar per jenis kelamin, (f) fasilitas cuci tangan (terdiri air, sanitasi, dan higienis bagi semua (WASH). | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
| 2000 | 06.01.052 |
|
| Persentase Sekolah dengan Akses terhadap Air Minum Layak | STATISTIK | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Proporsi sekolah berdasarkan tingkat pendidikan (dasar, menengah dan menengah atas) dengan akses terhadap fasilitas atau layanan yang diberikan (a) listrik(b) internet untuk tujuan pengajaran, (c) kom... | persen | Indikator SIPD: 000150 - Proporsi sekolah dengan akses ke: (a) listrik (b) internet untuk tujuan pengajaran, (c) komputer untuk tujuan pengajaran, (d) air minum layak, (e) fasilitas sanitasi dasar per jenis kelamin, (f) fasilitas cuci tangan (terdiri air, sanitasi, dan higienis bagi semua (WASH). | Ya | Ya | Ya | Ya | Ya |
Showing 1,951-2,000 of 2,950 items.
| Id Ddp | Sumber Referensi | Indikator | Nama Data | Definisi | Satuan | Instansi Produsen Data | Jenis Pengajuan | Jenis Data | Standar Data | Klasifikasi Data Sesuai Resiko | Klasifikasi Penyajian | Jadwal Pemutakhiran | Catatan kebutuhan dukungan data daerah | Tag Rad |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 09.02.0101 |
|
| Nilai Pencadangan Paket Usaha Mikro dan Kecil dalam Perencanaan Pengadaan Barang/Jasa | Nilai yang direncanakan untuk dibelanjakan oleh pemerintah dalam kegiatan pengadaan barang/jasa yang diperuntukkan bagi pelaku Usaha Mikro dan Kecil. | rupiah | LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional, Tingkatan Pemerintahan | TAHUNAN | Keuangan | ||
| 09.05.006 |
|
| Nilai Pendanaan Kegiatan Kerja Sama Pembangunan Internasional | Konsep dan Definisi:Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS) adalah kerja sama antara indonesia dan negara-negara sedang berkembang melalui mekanisme saling belajar, berbagi pengalaman terbaik serta alih... | rupiah | KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL | Prioritas | STATISTIK | 21010013 | Terbuka | Pusat | TAHUNAN | Indikator SIPD: 000337 - Jumlah indikasi pendanaan untuk pembangunan kapasitas dalam kerangka KSST Indonesia | Perencanaan Pembangunan Nasional |
| 02.02.0025 |
|
| Nilai Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor di setiap provinsi pada tahun berlangsung | Total nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh sektor perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan sepeda motor di suatu provinsi pada tahun tertentu. Sektor ini mencakup aktivitas penjualan... | miliar rupiah | BADAN PUSAT STATISTIK | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Provinsi | TAHUNAN | Perdagangan | ||
| 02.02.039 |
|
| Nilai perdagangan komoditas digital | Merupakan nilai ekspor dari kelompok produk ICT yang terdiri atas peralatan komputer, alat komunikasi, konsumsi elektronik, komponen elektronik dan sebagainya, serta meliputi 94 produk dalam... | miliar dolar amerika serikat | KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional | TAHUNAN | Perdagangan | ||
| 09.02.0102 |
|
| Nilai Perencanaan dan Realisasi Pengadaan Barang/Jasa | Nilai yang direncanakan untuk dibelanjakan oleh pemerintah dan nilai realisasi pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah dan dibiayai melalui Anggaran... | rupiah | LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional, Tingkatan Pemerintahan | TAHUNAN | Keuangan | ||
| 09.06.0033 |
|
| Nilai Perilaku dan Etika Petugas Layanan Kepolisian | Nilai/skor untuk Menilai sikap, perilaku, dan etika petugas kepolisian dalam berinteraksi dengan masyarakat, termasuk keramahan, kesopanan, dan keadilan dalam bertindak. | skor | KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA | Prioritas | STATISTIK | - | Satuan Kerja Kewilayahan Kepolisian Negara Republik Indonesia | TAHUNAN | Aparatur Negara | ||
| 06.01.0305 |
|
| Nilai PISA Indonesia (Literasi Membaca, Matematika, Sains) | Skor hasil Programme for International Student Assessment (PISA) untuk tiga domain utama: membaca, matematika, dan sains. | - | KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional | TIGA TAHUNAN | Pendidikan | ||
| 02.08.010 |
|
| Nilai PMA berorientasi ekspor | Nilai investasi dari PMA dengan realisasi investasi proyek produksi yang memiliki realisasi ekspor. Investasi yang beriorientasi ekspor mendukung dalam rantai nilai global dalam Prioritas Nasional... | triliun rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.011 |
|
| Nilai PMA dan PMDN | Nilai investasi PMA dan PMDN (Rp.Trilliun) adalah nilai kegiatan penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri untuk melakukan kegiatan usaha di wilayah negara Republik Indonesia. (Semakin tinggi... | triliun rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.012 |
|
| Nilai PMA dan PMDN Kawasan Ekonomi Khusus | Nilai PMA dan PMDN adalah nilai dari segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia.... | miliar rupiah | KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN | Prioritas | STATISTIK | - | Provinsi; Kabupaten/Kota; KEK; Capaian Kumilatif PMA; Capaian Kumilatif PMDN; Capaian Total Investasi; | TAHUNAN | Program: 05.02-Pengembangan Aglomerasi Industri di KI/KEK Prioritas sebagai Pusat Pertumbuhan Baru. Kegiatan: 05.02.02-Pengembangan KEK Sei Mangkei Lokasi Prioritas: Kab. Batu Bara, Kab. Simalungun Untuk meningkatkan peran industri sebagai penggerak sekaligus sumber pertumbuhan baru dan memperkuat fondasi bagi percepatan program hilirisasi. | Investasi | |
| 02.08.013 |
|
| Nilai PMA dan PMDN Kawasan Pusat Pertumbuhan | Untuk nilai realisasi investasi PMA dan PMDN di Kawasan Industri dan Kawasan Ekonomi Khusus mencakup nilai investasi BUPP dan Tenant sedangkan untuk nilai realisasi PMA dan PMDN di FTZ (termasuk... | triliun rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.014 |
|
| Nilai PMA dan PMDN Sektor Sekunder | NIlai PMA dan PMDN sektor sekunder adalah nilai kegiatan penanaman modal baik asing maupun dalam negeri untuk melakukan kegiatan usaha sekunder yang berkaitan dengan kegiatan usaha industri dan... | triliun rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.0007 |
|
| Nilai PMA Kawasan Ekonomi Khusus | Nilai realisasi investasi PMA (pelaku usaha kawasan dan tenant) yang berada di dalam KEK | rupiah triliun | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota | TAHUNAN | Program: 05.02-Pengembangan Aglomerasi Industri di KI/KEK Prioritas sebagai Pusat Pertumbuhan Baru. Kegiatan: 05.02.02-Pengembangan KEK Sei Mangkei Lokasi Prioritas: Kab. Batu Bara, Kab. Simalungun Untuk meningkatkan peran industri sebagai penggerak sekaligus sumber pertumbuhan baru dan memperkuat fondasi bagi percepatan program hilirisasi. | Investasi | |
| 02.08.015 |
|
| Nilai PMDN berorientasi ekspor | Nilai investasi dari PMDN dengan realisasi investasi proyek produksi yang memiliki realisasi ekspor. Investasi yang beriorientasi ekspor mendukung dalam rantai nilai global dalam Prioritas Nasional... | triliun rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.0008 |
|
| Nilai PMDN Kawasan Ekonomi Khusus | Nilai realisasi investasi PMDN (pelaku usaha kawasan dan tenan) yang berada di dalam KEK | rupiah triliun | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota | TAHUNAN | Program: 05.02-Pengembangan Aglomerasi Industri di KI/KEK Prioritas sebagai Pusat Pertumbuhan Baru. Kegiatan: 05.02.02-Pengembangan KEK Sei Mangkei Lokasi Prioritas: Kab. Batu Bara, Kab. Simalungun Untuk meningkatkan peran industri sebagai penggerak sekaligus sumber pertumbuhan baru dan memperkuat fondasi bagi percepatan program hilirisasi. | Investasi | |
| 07.03.019 |
|
| Nilai PNBP dari hasil pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar berkelanjutan | Indikator Nilai PNBP dari hasil pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar berkelanjutan mengukur jumlah pendapatan yang diperoleh negara dari pemanfaatan sumber daya hayati secara legal dan berkelanjutan,... | rupiah | KEMENTERIAN KEHUTANAN | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional | TAHUNAN | Kehutanan | ||
| 07.03.020 |
|
| Nilai PNBP dari pemanfaatan jasa lingkungan KSA, KPA dan TB | Penerimaan negara bukan pajak yang diperoleh dari adanya pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam di kawasan konservasi | miliar rupiah | KEMENTERIAN KEHUTANAN | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota | TAHUNAN | Kehutanan | ||
| 07.03.021 |
|
| Nilai PNBP Fungsional Kehutanan | PNBP Fungsional adalah PNBP yang tarifnya diatur oleh Peraturan Pemerintah dan dapat dipergunakan setelah mendapat izin/persetujuan Menteri Keuangan yang merupakan penerimaan yang berasal dari hasil... | rupiah | KEMENTERIAN KEHUTANAN | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional | TAHUNAN | Kehutanan | ||
| 07.04.0018 |
|
| Nilai Proses/Implementasi Efektivitas Pengelolaan Biota Perairan Langka, Terancam Punah, Dilindungi, dan/atau Appendix CITES | Tahapan pelaksanaan rencana pengelolaan, termasuk kegiatan konservasi, patroli, dan penegakan hukum | skor | KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional | TAHUNAN | Kelautan | ||
| 03.02.003 |
|
| Nilai Rata-rata Indeks Transformasi 45 Kawasan Transmigrasi | Indikator rata-rata Indeks Transformasi 45 Kawasan Transmigrasi merupakan indikator untuk mengukur tingkat perkembangan 45 kawasan transmigrasi prioritas dalam upaya mencapai sasaran pembangunan... | Indeks | KEMENTERIAN TRANSMIGRASI | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Data Bidang Ekonomi, Sosial, Lingkungan, Sarana dan Prasarana, Kelembagaan di Daerah dari Dinas dan OPD | Transmigrasi | |
| 02.08.0009 |
|
| Nilai Realisasi Investasi Kawasan Ekonomi Khusus Di KPBPB Batam | Akumulasi realisasi investasi modal dalam negeri dan modal luar negeri Kawasan ekonomi khusus di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam | rupiah triliun | BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM (BP BATAM) | Prioritas | STATISTIK | 23010064 | Terbuka | Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam | TRIWULANAN | Program: 05.02-Pengembangan Aglomerasi Industri di KI/KEK Prioritas sebagai Pusat Pertumbuhan Baru. Kegiatan: 05.02.02-Pengembangan KEK Sei Mangkei Lokasi Prioritas: Kab. Batu Bara, Kab. Simalungun Untuk meningkatkan peran industri sebagai penggerak sekaligus sumber pertumbuhan baru dan memperkuat fondasi bagi percepatan program hilirisasi. | Investasi |
| 02.08.017 |
|
| Nilai Realisasi Penanaman Modal di Bidang Hilirisasi | Nilai realisasi pada Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi dari 28 komoditas hilrisasi | triliun rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 09.02.0103 |
|
| Nilai Realisasi Penggunaan Produk Dalam Negeri dalam Pengadaan Barang/Jasa | Nilai realisasi pengadaan barang/jasa oleh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan ditujukan... | rupiah | LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional, Tingkatan Pemerintahan | TAHUNAN | Keuangan | ||
| 02.08.018 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Bauksit | Nilai realisasi pada Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi dari komoditas Bauksit. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.019 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Garam | Nilai realisasi pada Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Garam. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | "Program: 02.22-Pengembangan Ekonomi Biru sebagai Sumber Pertumbuhan Baru. Kegiatan: 02.22.04-Pengembangan Industri Garam dan Produk Olahan Hasil Laut Lokasi Prioritas: Provinsi Nusa Tenggara Barat; Provinsi NTT; Jawa Barat; Jawa Tengah; Jawa Timur (termasuk Kab. Gresik, Kab. Bangkalan, Kab. Pasuruan, Kab. Tuban, Kab. Lamongan); Sulawesi Selatan (termasuk Kab. Takalar, Kab. Jeneponto, Kab. Pangkajene Kepulauan); Gorontalo; Bali; D.I. Yogyakarta; Sulawesi Tengah; Aceh; dan Kalimantan Timur. Deskripsi: Konsumsi garam nasional terus meningkat (mencapai 4,5 juta ton pada 2022), namun tidak diimbangi dengan produksi nasional (2,9 juta ton pada 2022). Hal ini menyebabkan pemenuhan konsumsi garam nasional masih dilakukan melalui impor, meskipun Indonesia memiliki garis pantai 108.000 km. Padahal, Perpres Nomor 126 Tahun 2022 mengamanatkan agar kebutuhan garam nasional dipenuhi oleh produksi dalam negeri paling lambat tahun 2024 (dengan pengecualian). Oleh karena itu, program ini bertujuan mengembangkan sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui peningkatan nilai tambah, produktivitas, dan daya saing industri garam dan produk olahan hasil laut. Hal ini memerlukan investasi pada industri hilirisasi garam, terutama (i) soda kaustik, (ii) sodium karbonat (soda ash), (iii) sodium sulfat, serta vacuum salt untuk sektor kesehatan." | Investasi | |
| 02.08.020 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Gas Bumi | Nilai realisasi pada Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Gas Bumi. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.021 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Ikan Tuna Cakalang Tongkol (TCT) | Nilai realisasi pada Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Ikan Tuna Cakalang Tongkol (TCT). | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.022 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Industri Logam Dasar Besi dan Baja | Nilai realisasi pada Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Besi dan Baja. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Program: 05.01-Pengembangan Hilirisasi Industri berbasis SDA Unggulan, Industri Padat Karya Terampil, Padat Teknologi Inovasi, serta Berorientasi Ekspor. Kegiatan: 05.01.18-Penguatan Industri Logam Dasar, Besi dan Baja Lokasi Prioritas: Sulawesi Tengah Melanjutkan hilirisasi dan mengembangkan industri berbasis sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah | Investasi | |
| 02.08.023 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Kelapa | Nilai realisasi pada Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Kelapa. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Program: 05.01-Pengembangan Hilirisasi Industri berbasis SDA Unggulan, Industri Padat Karya Terampil, Padat Teknologi Inovasi, serta Berorientasi Ekspor. Kegiatan: 05.01.06-Pengembangan Hilirisasi Kelapa Lokasi Prioritas: Seluruh Provinsi; 30 Provinsi; Provinsi Sulawesi Utara; Sulawesi Tengah; Provinsi Jawa Timur; Provinsi Kalimantan Selatan; Provinsi Riau (Kab. Indragiri Hilir); Provinsi Aceh (Kab. Simeulue, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Barat, Kab. Aceh Besar, Kab. Pidie, Kab. Bireuen, Kab. Aceh Utara); klaster kabupaten di Bengkulu (Kab. Bengkulu Selatan, Kab. Rejang Lebong, Kab. Kaur, Kab. Lebong, Kab. Kepahiang, Kab. Bengkulu Tengah); Kabupaten Kebumen; klaster kabupaten di Maluku Utara (Kab. Halmahera Barat, Kab. Halmahera Utara, Kab. Halmahera Selatan, Kab. Kepulauan Sula); klaster kabupaten di Kalimantan Timur (Kab. Kutai Kartanegara, Kab. Kutai Barat); Kab. Bintan; klaster kabupaten/kota di Sumatera Barat (Kab. Padang Pariaman, Kab. Pesisir Selatan, Kota Pariaman); Kab. Tabanan; klaster kabupaten di Sulawesi Barat (Kab. Majene, Kab. Mamuju, Kab. Polewali Mandar, Kab. Mamasa); dan Kab. Tasikmalaya. Deskripsi: Rangkuman program ini bertujuan untuk melanjutkan hilirisasi dan mengembangkan industri pengolahan berbasis kelapa, serta mendukung pengembangan kawasan perkebunan. Fokus utamanya adalah untuk meningkatkan produktivitas, produksi, dan utilisasi industri kelapa. Keseluruhan upaya ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri kelapa secara nasional. | Investasi | |
| 02.08.024 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Kelapa Sawit | Nilai realisasi pada Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Kelapa Sawit. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.025 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Minyak Bumi | Nilai realisasi Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Minyak Bumi. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.026 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Nikel | Nilai realisasi Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Nikel. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Program: 05.01-Pengembangan Hilirisasi Industri berbasis SDA Unggulan, Industri Padat Karya Terampil, Padat Teknologi Inovasi, serta Berorientasi Ekspor. Kegiatan: 05.01.01-Pengembangan Hilirisasi Nikel Lokasi Prioritas: Sulawesi Tengah Melanjutkan hilirisasi dan mengembangkan industri berbasis sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah | Investasi | |
| 02.08.027 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Pasir Silika | Nilai realisasi Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Pasir Silika. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.028 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Rumput Laut | Nilai realisasi Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Rumput Laut. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Program: 05.01-Pengembangan Hilirisasi Industri berbasis SDA Unggulan, Industri Padat Karya Terampil, Padat Teknologi Inovasi, serta Berorientasi Ekspor. Kegiatan: 05.01.07-Pengembangan Hilirisasi Rumput Laut Lokasi Prioritas: Jawa Tengah; Sulawesi Utara; Kabupaten Nunukan; Papua Barat Daya; Kab. Takalar; Kab. Pangkajene Kepulauan; Sulawesi Tengah; Jawa Timur; Sulawesi Tenggara (Kab. Konawe Selatan); Nusa Tenggara Timur; Kabupaten Gorontalo Utara. Deskripsi: Program menargetkan penguatan rantai nilai rumput laut untuk membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru di pesisir melalui hilirisasi dan industrialisasi (karagenan, biostimulant, pakan ternak, tepung/agar-agar, nutraceutical), penguatan kelembagaan dan pembiayaan, serta peningkatan kualitas bahan baku dan budidaya ramah lingkungan. Latar belakangnya: produksi rumput laut kering turun (11 juta ton pada 2016 menjadi 9,05 juta ton pada 2021; CAGR -3,7%), sementara ekspor naik hingga USD 388,12 juta (2022; CAGR 20,01%). Dengan potensi hilirisasi ~USD 11,8 miliar dan kekuatan pada jenis Eucheuma serta Gracilaria, program diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing industri, penciptaan kerja di wilayah pesisir, dan dukungan pada blue carbon trade. | Investasi | |
| 02.08.029 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Tembaga | Nilai realisasi Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Tembaga. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.030 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Tilapia | Nilai realisasi Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Tilapia. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.031 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Timah | Nilai realisasi Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Timah. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 02.08.032 |
|
| Nilai Realisasi PMA/PMDN Hilirisasi Udang | Nilai realisasi Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berdasarkan realisasi kegiatan usaha industri yang menghasilkan produk hilirisasi komoditas Udang. | juta rupiah | KEMENTERIAN INVESTASI DAN HILIRISASI/BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Investasi | ||
| 09.06.0105 |
|
| Nilai SAKIP 2023-2025 | Evaluasi AKIP adalah proses penilaian terhadap penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) di suatu instansi pemerintah. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur tingkat... | Kategori | KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI | Prioritas | STATISTIK | - | Nilai Nasional | TAHUNAN | Aparatur Negara | ||
| 09.05.0034 |
|
| Nilai serta Hasil Evaluasi Reformasi Birokrasi LKPP | Angka dan kategori yang dihasilkan berdasarkan Laporan Hasil Evaluasi yang dilakukan oleh Tim Penilai Nasional Reformasi Birokrasi | - | KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI | Prioritas | STATISTIK | - | Tingkat Pemerintahan | TAHUNAN | Perencanaan Pembangunan Nasional | ||
| 09.02.0015 |
|
| Nilai Tambah Bruto Sektor Penyediaan Akomodasi | Total nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh usaha pada subsektor penyediaan akomodasi , didapatkan dari total nilai output dikurangi biaya input antara yang digunakan.? | miliar rupiah | BADAN PUSAT STATISTIK | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Provinsi | TAHUNAN | Program: 03.05-Pembangunan Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan. Kegiatan: 03.05.08-Percepatan Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas Danau Toba Lokasi Prioritas: Kab. Toba, Kab. Simalungun, Kota Medan, Kota Langkat, Kota Gunungsitoli | Keuangan | |
| 09.02.0016 |
|
| Nilai Tambah Bruto Sektor Penyediaan Jasa Makan dan Minum | Total nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh usaha pada subsektor penyediaan jasa makan dan minum, didapatkan dari total nilai output dikurangi biaya input antara yang digunakan.? | miliar rupiah | BADAN PUSAT STATISTIK | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Provinsi | TAHUNAN | Program: 03.05-Pembangunan Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan. Kegiatan: 03.05.08-Percepatan Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas Danau Toba Lokasi Prioritas: Kab. Toba, Kab. Simalungun, Kota Medan, Kota Langkat, Kota Gunungsitoli | Keuangan | |
| 02.10.0003 |
|
| Nilai Tambah Industri Kecil (NTIK) | Selisih antara nilai output (barang dan jasa akhir) yang dihasilkan oleh industri kecil dengan input antara (biaya bahan baku dan input lainnya) | - | BADAN PUSAT STATISTIK | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional | TAHUNAN | Indikator SIPD: 000212 - Proporsi nilai tambah industri kecil terhadap total nilai tambah sektor industri. | Usaha Kecil Dan Menengah | |
| 02.01.0024 |
|
| Nilai Tambah Industri Manufaktur (NTIM) | Total nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh usaha pada subsektor industri pengolahan (manufaktur), didapatkan dari total nilai output dikurangi biaya input antara yang digunakan.? | miliar rupiah | BADAN PUSAT STATISTIK | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Indikator SIPD: 000214 - Rasio Emisi CO2/Emisi Gas Rumah Kaca dengan nilai tambah sektor industri | Industri | |
| 02.01.0025 |
|
| Nilai tambah Industri Mesin dan Perlengkapan pada tahun berlangsung | Total nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh usaha pada subsektor industri mesin dan perlengkapan, didapatkan dari total nilai output dikurangi biaya input antara yang digunakan.? | miliar rupiah | BADAN PUSAT STATISTIK | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional | TAHUNAN | Industri | ||
| 02.01.0026 |
|
| nilai tambah Industri Mesin dan Perlengkapan pada tahun sebelumnya | Total nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh usaha pada subsektor industri mesin dan perlengkapan , didapatkan dari total nilai output dikurangi biaya input antara yang digunakan dalam... | miliar rupiah | BADAN PUSAT STATISTIK | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional | TAHUNAN | Industri | ||
| 02.03.0034 |
|
| Nilai Tambah Pertanian (JNT) | Total nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh usaha pada lapangan usaha pertanian, didapatkan dari total nilai output dikurangi biaya input antara dalam periode satu tahun | rupiah | BADAN PUSAT STATISTIK | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional | TAHUNAN | Indikator SIPD: 000093 - Nilai tambah pertanian per tenaga kerja menurut kelas usaha tani tanaman/ peternakan/ perikanan/kehutanan | Pertanian | |
| 02.03.034 |
|
| Nilai tambah pertanian per tenaga kerja menurut kelas usaha tani tanaman/ peternakan/ perikanan/ kehutanan | Nilai tambah pertanian per tenaga kerja memberikan gambaran tentang produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian. Makin besar pendapatan atau penghasilan tenaga kerja/petani maka semakin besar... | persen | BADAN PUSAT STATISTIK | Prioritas | STATISTIK | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Indikator SIPD: 000093 - Nilai tambah pertanian per tenaga kerja menurut kelas usaha tani tanaman/ peternakan/ perikanan/kehutanan | Pertanian | |
| 02.01.0027 |
|
| Nilai Tambah Sektor Industri Manufaktur (NTSIM) | Total nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh usaha pada lapangan usaha industri pengolahan (manufaktur), didapatkan dari total nilai output dikurangi biaya input antara yang digunakan pada... | miliar rupiah | BADAN PUSAT STATISTIK | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional | TAHUNAN | Indikator SIPD: 000209 - Proporsi nilai tambah sektor industri manufaktur terhadap PDB dan perkapita | Industri | |
| 02.01.0028 |
|
| Nilai Tambah Sektor Industri Pengolahan per tahun | Total nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh usaha pada lapangan usaha industri manufaktur, didapatkan dari total nilai output dikurangi biaya input antara dalam periode satu tahun | miliar rupiah | BADAN PUSAT STATISTIK | Prioritas | STATISTIK | - | Nasional | TAHUNAN | Indikator SIPD: 000210 - Laju pertumbuhan PDB Industri Manufaktur | Industri |
Showing 1,951-2,000 of 3,346 items.
| ID | Id Ddp | Sumber Referensi | Indikator | Nama Data | Jenis Pengajuan | Jenis Data | Indikator Variabel | Standar Data | Mitra Sektor Bappenas | Instansi Produsen Data | Unit Kerja Produsen Data | Definisi | Satuan | Klasifikasi Data Sesuai Resiko | Klasifikasi Penyajian | Jadwal Pemutakhiran | Tag Rad | Status Persetujuan |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 163002 | 09.03.0006 |
|
| Indeks Transformasi Digital Nasional (ITDN) Pilar Masyarakat | Prioritas | STATISTIK | Variabel | KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN DIGITAL | Biro Perencanaan | Indeks TDN Pilar Masyarakat merupakan suatu ukuran yang menggambarkan kesiapan dan daya saing masyarakat dalam ekosistem digital mencakup kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan tuntutan... | nilai (0-100) | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Informasi | TERSEDIA | ||
| 163003 | 09.03.0007 |
|
| Indeks Transformasi Digital Nasional (ITDN) Pilar Pemerintah | Prioritas | STATISTIK | Variabel | KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN DIGITAL | Biro Perencanaan | Indeks TDN Pilar Pemerintah merupakan indeks yang mengukur sejauh mana pemerintah memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efektivitas pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, dan... | nilai (0-100) | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Informasi | TERSEDIA | ||
| 163004 | 07.03.002 |
|
| Indeks tutupan hijau pegunungan | Prioritas | STATISTIK | Indikator | 31010020 | Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air | KEMENTERIAN KEHUTANAN | Direktorat..... | Indeks Tutup Hijau Pegunungan (Mountain Green Cover Index/MGCI) dimaksudkan untuk mengukur perubahan vegetasi hijau di area pegunungan, yaitu: kelas tutupan lahan hutan, lahan pertanian, padang... | Indeks | Terbuka | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi; Tingkat Kekritisan Lahan | TAHUNAN | Kehutanan | TERSEDIA |
| 163005 | 07.01.0013 |
|
| Index Harga Batubara (PLT) | Prioritas | STATISTIK | Variabel | KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL | Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara | Indeks harga batubara yang digunakan sebagai acuan biaya bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yang mencerminkan perubahan harga batubara untuk kebutuhan pembangkitan listrik dalam suatu... | Rp/Ton | - | Nasional | TAHUNAN | Pertambangan | TERSEDIA | ||
| 163006 | 02.01.0094 |
|
| Indikasi geografis | Prioritas | STATISTIK | Variabel | KEMENTERIAN HUKUM | Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual | Hak kekayaan intelektual berupa daftar indikasi geografis terkait industri | daftar | - | Nasional | TAHUNAN | Industri | TERSEDIA | ||
| 163007 | 02.03.006 |
|
| Indikator anomali harga pangan | Prioritas | STATISTIK | Indikator | BADAN PUSAT STATISTIK | DIREKTORAT STATISTIK HARGA | Indikator anomali harga pangan (IAHP) mengidentifikasi harga-harga pangan di pasar yang secara abnormal tinggi. IAHP ini memperlihatkan tingkat pertumbuhan gabungan tertimbang dari harga-harga... | - | - | Nasional dan Ibukota Provinsi | TAHUNAN | Perdagangan | TERSEDIA | ||
| 163008 | 09.05.002 |
|
| Indonesia Blue Economy Index (IBEI) | Prioritas | STATISTIK | Indikator | KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL | Direktorat Kelautan dan Perikanan | Indeks Ekonomi Biru Indonesia (IBEI - Indonesia Blue Economy Index) terdiri dari tiga pilar yang mewakili komponen utama pembangunan berkelanjutan. Pertama, Pilar Ekonomi mencerminkan kontribusi... | - | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Perencanaan Pembangunan Nasional | TERSEDIA | ||
| 163009 | 09.05.0006 |
|
| Indonesia Blue Economy Index (IBEI) Pilar Ekonomi | Prioritas | STATISTIK | Variabel | KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL | Direktorat Kelautan dan Perikanan | Pilar Ekonomi mengukur kontribusi sektor kelautan terhadap perekonomian regional melalui subpilar seperti perikanan tangkap dan budidaya, akivitas perdagangan dan transportasi maritim, industri... | - | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Perencanaan Pembangunan Nasional | TERSEDIA | ||
| 163010 | 09.05.0007 |
|
| Indonesia Blue Economy Index (IBEI) Pilar Lingkungan | Prioritas | STATISTIK | Variabel | KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL | Direktorat Kelautan dan Perikanan | Pilar Lingkungan mengukur kualitas ekosistem pesisir dan laut, upaya mitigasi dampak lingkungan, serta pemanfaatan energi terbarukan. | - | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Perencanaan Pembangunan Nasional | TERSEDIA | ||
| 163011 | 09.05.0008 |
|
| Indonesia Blue Economy Index (IBEI) Pilar Sosial | Prioritas | STATISTIK | Variabel | KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL | Direktorat Kelautan dan Perikanan | Pilar Sosial berfokus pada dimensi inklusivitas dengan mengukur sejauh mana sektor kelautan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang tercermin dalam subpilar kesejahteraan, akses kesehatan,... | - | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | TAHUNAN | Perencanaan Pembangunan Nasional | TERSEDIA |
Showing 391-400 of 4,145 items.
